Archive for October, 2005

Kebebasan Berpikir Dalam Buddhisme (1)

Saturday, October 1st, 2005

Sudah menjadi pengetahuan kita, bahwa buddhisme sangat berbeda dengan
agama-agama wahyu yang banyak menakut-nakuti dan mengiming-imingi
pengikutnya.
Buddhisme memberikan kebebasan penuh bagi penganut maupun simpatisannya.

Bukanlah suatu perbuatan yang salah apabila seorang Buddhis tidak
mempercayai apa yang disabdakan oleh Buddha sendiri ( Kalama Sutta - Ed. ).
Tidak masalah bagi seorang Buddhis untuk meragukan kitab sucinya sendiri.
Umat Buddha tidak ambil pusing pada hal-hal spekulatif yang jelas-jelas
tidak dapat dibuktikan secara nyata di kehidupan ini.

Tidak peduli apakah benar surga atau neraka itu ada, apakah Buddha memang
benar maha tahu, apakah benar bila kita mati akan terlahir lagi, apakah
benar karma itu ada … ?
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang melintasi otak kita.

Tentu saja, orang-orang yang pernah menerima ajaran-ajaran agama wahyu akan
bertanya dengan penuh keheranan,
" Lalu apa yang membuat Anda dan orang-orang yang lain beragama Buddha ?
Janji surga tidak ada, ditakut-takuti neraka juga kagak, gimana tuh ?"

Orang-orang menganut ajaran Buddha dikarenakan ajaran Buddha menyediakan
suatu solusi, memberikan cara pemecahan masalah yang begitu indah untuk
masalah-masalah terbesar manusia pada kehidupan ini.
Bukan janji-janji di masa datang setelah mati yang sama sekali tidak bisa
dibuktikan.

Buddhisme menyediakan kedamaian dan kebahagiaan saat ini.
Walaupun, bila ditelaah lebih lanjut lagi, Buddhisme juga menawarkan
spiritualitas yang lebih dalam dan lebih tinggi …

Memang, banyak orang yang beragama Buddha karena merasa menemukan suatu
realitas dan hal-hal logis yang tidak akan ditemui di agama wahyu.
Mereka tidak menemukan hal-hal spekulatif pada sabda-sabda Buddha, mereka
tidak menemukan dongeng-dongeng indah mengenai penciptaan, asal muasal
sesuatu, yang jelas-jelas telah gugur oleh ilmu pengetahuan modern.

Pada intinya Buddhisme tetaplah merupakan sebuah agama yang dipraktikkan dan
sebuah jalan spiritual, bukan hanya sekadar alat untuk berdebat atau berisi
teori-teori indah nan kering …

Jadi bila ada yang bertanya,
" Bagaimana membuktikan ajaran Buddha ?"

Pada level yang paling mudah dan tidak terlalu muluk, bila seseorang
mendengar dan mempraktikkan Buddha Dhamma, lalu merasakan kebahagiaan dan
damai, berarti ajaran Buddha adalah benar.

Jangan membicarakan level yang muluk-muluk, seperti rebirth ( tumimbal
lahir - Ed. ) atau sebangsanya.
Karena pembuktian ini perlu ketekunan, walaupun Buddha sendiri sudah
menyediakan perangkat pembuktiannya.
Atau bila anda menginginkan pembuktian ilmiah, anda terpaksa harus puas
hanya dengan membaca hasil penelitian orang lain, salah satunya oleh Dr. Ian
Stevenson di salah satu bukunya yang membahas tentang tumimbal lahir.

** Taken from : Buddhist I’s Blog **